Sabtu, 12 November 2016





KATA PENGANTAR

             Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur dengan berkat rahmat Allah SWT, yang telah memudahkan kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
           Makalah berjudul Hukum Jual Beli dalam Islam ini disusun dengan rasa tanggung jawab dan  kerja keras agar para pembaca merasa puas dengan hasil kerja keras kami.dan semoga dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui mengenai jual beli dalam islam.
               Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, makalah ini tidak akan selesai jika tidak ada bantuan dari segala pihak.
 semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua dalam kehidupan sehari-hari. apabila ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat atau penulisan maupun bahasanya  , kami mohon maaf .






DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................ i
Daftar Isi.......................................................................................... ii
Bab 1 Pendahuluan.......................................................................... 1
1.1  Latar Belakang........................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah...................................................................... 1
1.3  Tujuan........................................................................................ 1
Bab 2 Pembahasan........................................................................... 2
2.1 Pengertian Jual beli.................................................................... 2
2.2 Dasar hukum jual beli................................................................ 2
2.3 Rukun dan syarat jual beli......................................................... 2
2.4 Khiyar........................................................................................ 3
2.5 Macam-macam jual beli............................................................. 4
2.6 Manfaat jual beli........................................................................ 5
Bab 3 Penutup................................................................................. 6
3.1 Kesimpulan................................................................................ 6
3.2  Saran......................................................................................... 6







  



                                                                            BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, setiap muslim pasti melaksanakan suatu transaksi yang biasa disebut dengan jual beli. Jual beli adalah tukar menukar barang dengan barang yang lain atau uang dengan cara-cara tertentu sesuai dengan ketentuan syariat. Si penjual menjual barangnya, dan si pembeli membelinya dengan menukarkan barang itu dengan sejumlah uang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.Jika zaman dahulu transaksi ini dilakukan secara langsung dengan bertemunya kedua belah pihak, maka pada zaman sekarang jual beli sudah tidak terbatas pada satu ruang saja.Dengan kemajuan teknologi, dan maraknya penggunaan internet, kedua belah pihak dapat bertransaksi dengan lancar.


1.2  Rumusan masalah
Dari beberapa uraian diatas tentang jual beli yang sebagian telah dipaparkan,maka beberapa pertanyaan yang perlunya untuk di jawab agar tidak ada keraguan lagi.
1.    Apa yang di maksud dengan  jual beli ?
2.    Apa saja rukun-rukun dan syarat-syarat jual beli ?
3.    Sebutkan macam-macam jual beli ?

1.3    Tujuan penulisan
1.  menjelaskan cara jual beli yang benar menurut syariat islam
2. mengetahui Rukun dan Syarat jual beli
3. mengetahui macam-macam jual beli




                                                                          BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Jual beli
                   jual beli ialah  tukar menukar benda atau barang dengan barang yang lain atau uang dengan cara tertentu sesuai dengan ketentuan syariat .

2.2 Dasar hukum jual beli
       Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam al-quran dan sunah Rasulullah saw. Terdapat beberapa ayat al-quran dan sunah Rasulullah saw, yang berbicara tentang jual beli, antara lain :
A.  Al-Quran
1.         Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 275 “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”
2.         Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 198 “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”
3.         Allah berfirmanSurah An-Nisa ayat 29 “…kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…”
2.3  Rukun dan syarat jual beli
       a) Syarat yang terkait Penjual dan Pembeli
1)      Berakal sehat, oleh sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki akal yang sehat agar dapat meakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar. Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila, hukumnya tidak sah.
2)           Atas dasar suka sama suka, yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak manapun.
3)         Keadaanya bukan pemboros
b)   Syarat yang terkait dalam ijab qabul
1)      Antara ijab dan qabul tidak berselang lama
2)      Mufakat
3)      Dalam waktu yang tidak terbatas
c)    Syarat-syarat barang yang diperjual belikan
Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut :
1)      Suci, dalam islam tidak sah melakukan transaksi jual beli barang najis, seperti bangkai, babi, anjing, dan sebagainya.
2)      Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa orang lain yang memilikinya.
3)      Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Contoh barang yang tidak bermanfaat adalah lalat, nyamauk, dan sebagainya. Barang-barang seperti ini tidak sah diperjualbelikan. Akan tetapi, jika dikemudian hari barang ini bermanfaat akibat perkembangan tekhnologi atau yang lainnya, maka barang-barang itu sah diperjualbelikan.
4)      Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai.
5)      Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya, jenisnya, sifat, dan harganya.
d)   Syarat-syarat nilai tukar (harga barang)
Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) yaitu :
1)      Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
2)      Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukumseperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berutang) maka pembayarannya harus jelas.
3)      Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara’, seperti babi, dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara’.
2.4 Khiyar
       Khiyar artinya boleh memilih antara dua perkara , meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya .hikmah khiyar yaitu agar kedua orang yang bertransaksi dapat memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh , sehingga tidak trjadi penyesalan dikemudian hari.macam-macam khiyar :
1)      Khiyar Majlis
Artinya sipembeli dan penjual boleh memilih antara dua perkara tersebut di atas , selama keadaanya masih tetap ditempat jual beli . khiyar majlis ini berlaku untuk semua macam jual beli.
2)      Khiyar Syarat
Artinya khiyar yang diisyaratkan oleh kedua belah pihak sewaktu aqad atau salah satu dari keduanya .



  3)      Khiyar aibi
Artinya si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibeli , apabila ada cacat dan kecacatannya memang sudah ada sebelumnya hanya tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli .
2.5  Macam-macam jual beli
Jual beli dapat ditinjau dari berbragai segi, yaitu:
a.       Ditinjau dari segi bendanya dapat dibedakan menjadi:
1)      Jual beli benda yang kelihatan, yaitu jual beli yang pada waktu akad, barangnya ada di hadapan penjual dan pembeli.
2)      Jual beli salam, atau bisa juga disebut dengan pesanan. Dalam jual beli ini harus disebutkan sifat-sifat barang dan harga harus dipegang ditempat akad berlangsung.
3)      Jual beli benda yang tidak ada,  Jual beli seperti ini tidak diperbolehkan dalam agama Islam.
b.      Ditinjau dari segi pelaku atau subjek jual beli:
1)      Dengan lisan,  akad yang dilakukan dengan lisan atau perkataan. Bagi orang bisu dapat diganti dengan isyarat.
2)      Dengan perantara, misalnya dengan tulisan atau surat menyurat. Jual beli ini dilakukan oleh penjual dan pembeli, tidak dalam satu majlis akad, dan ini dibolehkan menurut syara’.
3)      Jual beli dengan perbuatan, yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab kabul. Misalnya seseorang mengambil mie instan yang sudah bertuliskan label harganya. Menurut sebagian ulama syafiiyah hal ini dilarang karena ijab kabul adalah rukun dan syarat jual beli, namun sebagian syafiiyah lainnya seperti Imam Nawawi membolehkannya.
c.       Dinjau dari segi hukumnya
Jual beli dinyatakan sah atau tidak sah bergantung pada pemenuhan syarat dan rukun jual beli yang telah dijelaskan di atas. Dari sudut pandang ini, jumhur ulama membaginya menjadi dua, yaitu:
1)   Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya.
2)   Ghairu Shahih, yaitu jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukunnya.
Sedangkan fuqaha atau ulama Hanafiyah membedakan jual beli menjadi tiga, yaitu:
1)   Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya
8-Point Star: 42)   Bathil, adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli, dan ini tidak diperkenankan oleh syara’. Misalnya:
a.       Jual beli atas barang yang tidak ada ( bai’ al-ma’dum ), seperti jual beli janin di dalam perut ibu dan jual beli buah yang tidak tampak.
b.      Jual beli barang yang zatnya haram dan najis, seperti babi, bangkai dan khamar.
c.       Jual beli bersyarat, yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli.
d.      Jual beli yang menimbulkan kemudharatan, seperti jual beli patung, salib atau buku-buku bacaan porno.
e.       Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram, seperti menjual anak binatang yang masih bergantung pada induknya.
3)   Fasid yaitu jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syara’ namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi keabsahannya. Misalnya :
a)      jual beli barang yang wujudnya ada, namun tidak dihadirkan ketika berlangsungnya akad.
b)      Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota atau pasar, yaitu menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan harga murah
c)      Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut.
d)     Jual beli barang rampasan atau curian.
e)      Menawar barang yang sedang ditawar orang lain.
2.6  Manfaat  Jual Beli
        Manfaat jual beli antara lain :
a)      Jual beli dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik orang lain.
b)      Penjual dan pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan atau suka sama suka.
c)      Masing-masing pihak merasa puas. Penjual melepas barang dagangannya dengan ikhls dan menerima uang, sedangkan pembeli memberikan uang dan menerima barang dagangan dengan puas pula. Dengan demikian, jual beli juga mampu mendorong untuk saling bantu antara keduanya dalam kebutuhan sehari-hari.
d)     Dapat menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram.
e)      Penjual dan pembeli mendapat rahmat dari Allah swt
BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
                   Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jual beli itu diperbolehkan dalam Islam.Hal ini dikarenakan jual beli adalah sarana manusia dalam mencukupi kebutuhan mereka, dan menjalin silaturahmi antara mereka.Namun demikian, tidak semua jual beli diperbolehkan.Ada juga jual beli yang dilarang karena tidak memenuhi rukun atau syarat jual beli yang sudah disyariatkan. Rukun jual beli adalah adanya akad (ijab kabul), subjek akad dan objek akad yang kesemuanya mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan itu semua telah dijelaskan di atas.
3.2    Saran
                   Jual beli merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh setiap manusia, namun pada zaman sekarang manusia tidak menghiraukan hukum islam. Oleh karena itu, sering terjadi penipuan dimana-mana. Untuk menjaga perdamaian dan ketertiban sebaiknya kita berhati-hati dalam bertransaksi dan alangkah baiknya menerapkan hukum islam dalam interaksinya.
                   Allah SWT telah berfirman bahwasannya Allah memperbolehkan jual beli dan mengharamkan riba.Maka dari itu, jauhilah riba dan jangan sampai kita melakukun riba. Karena sesungguhnya riba dapat merugikan orang lain.