KATA PENGANTAR
Alhamdulillah
kami panjatkan puji syukur dengan berkat rahmat Allah SWT, yang telah memudahkan
kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.
Makalah
berjudul Hukum Jual Beli dalam Islam
ini disusun dengan rasa tanggung jawab dan kerja
keras agar para pembaca merasa puas dengan hasil kerja keras kami.dan semoga
dengan adanya makalah ini kita dapat mengetahui mengenai jual beli dalam islam.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
turut membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, makalah ini tidak akan selesai jika tidak ada
bantuan dari segala pihak.
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk
kita semua dalam kehidupan sehari-hari. apabila ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat atau penulisan
maupun bahasanya , kami mohon maaf .
DAFTAR ISI
Kata Pengantar................................................................................ i
Daftar Isi.......................................................................................... ii
Bab 1
Pendahuluan.......................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan
Masalah...................................................................... 1
1.3 Tujuan........................................................................................ 1
Bab 2
Pembahasan........................................................................... 2
2.1
Pengertian Jual beli.................................................................... 2
2.2 Dasar
hukum jual beli................................................................ 2
2.3 Rukun
dan syarat jual beli......................................................... 2
2.4 Khiyar........................................................................................ 3
2.5
Macam-macam jual beli............................................................. 4
2.6 Manfaat
jual beli........................................................................ 5
Bab 3
Penutup................................................................................. 6
3.1
Kesimpulan................................................................................ 6
3.2 Saran......................................................................................... 6
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap hari, setiap muslim pasti
melaksanakan suatu transaksi yang biasa disebut dengan jual beli. Jual beli
adalah tukar menukar barang dengan barang yang lain atau uang dengan cara-cara
tertentu sesuai dengan ketentuan syariat. Si penjual menjual barangnya, dan si
pembeli membelinya dengan menukarkan barang itu dengan sejumlah uang yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak.Jika zaman dahulu transaksi ini dilakukan
secara langsung dengan bertemunya kedua belah pihak, maka pada zaman sekarang
jual beli sudah tidak terbatas pada satu ruang saja.Dengan kemajuan teknologi,
dan maraknya penggunaan internet, kedua belah pihak dapat bertransaksi dengan
lancar.
1.2 Rumusan masalah
Dari beberapa uraian diatas tentang jual beli yang sebagian telah
dipaparkan,maka beberapa pertanyaan yang perlunya untuk di jawab agar tidak ada
keraguan lagi.
1.
Apa yang di maksud dengan jual beli
?
2.
Apa saja rukun-rukun dan syarat-syarat jual beli ?
3.
Sebutkan macam-macam jual beli ?
1.3 Tujuan penulisan
1. menjelaskan cara jual beli yang benar menurut syariat
islam
2. mengetahui Rukun dan Syarat jual beli
3. mengetahui macam-macam jual beli
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jual beli
jual beli ialah tukar menukar benda atau barang dengan barang
yang lain atau uang dengan cara tertentu sesuai dengan ketentuan syariat .
2.2 Dasar hukum jual beli
Jual beli sebagai
sarana tolong menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat
dalam al-quran dan sunah Rasulullah saw. Terdapat beberapa ayat al-quran dan
sunah Rasulullah saw, yang berbicara tentang jual beli, antara lain :
A.
Al-Quran
1.
Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 275 “Allah menghalalkan jual beli dan
mengharamkan riba”
2.
Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 198 “Tidak ada dosa bagimu untuk
mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu”
3.
Allah berfirmanSurah An-Nisa ayat 29 “…kecuali dengan jalan perniagaan yang
berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…”
2.3 Rukun dan syarat jual beli
a) Syarat yang terkait Penjual dan Pembeli
1)
Berakal sehat, oleh
sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki akal yang sehat agar dapat
meakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar. Jual beli yang dilakukan
anak kecil yang belum berakal dan orang gila, hukumnya tidak sah.
2)
Atas dasar suka sama suka, yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak
manapun.
3)
Keadaanya bukan pemboros
b) Syarat yang terkait dalam ijab qabul
1)
Antara ijab dan qabul tidak
berselang lama
2)
Mufakat
3)
Dalam waktu yang tidak terbatas
c) Syarat-syarat barang yang diperjual belikan
Syarat-syarat yang
terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut :
1)
Suci, dalam islam tidak sah melakukan transaksi jual beli barang najis,
seperti bangkai, babi, anjing, dan sebagainya.
2) Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa
orang lain yang memilikinya.
3) Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Contoh barang yang tidak
bermanfaat adalah lalat, nyamauk, dan sebagainya. Barang-barang seperti ini
tidak sah diperjualbelikan. Akan tetapi, jika dikemudian hari barang ini
bermanfaat akibat perkembangan tekhnologi atau yang lainnya, maka barang-barang
itu sah diperjualbelikan.
4) Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai.
5) Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya, jenisnya, sifat, dan
harganya.
d)
Syarat-syarat nilai
tukar (harga barang)
Syarat-syarat nilai
tukar (harga barang) yaitu :
1) Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
2) Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukumseperti pembayaran
dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian
(berutang) maka pembayarannya harus jelas.
3) Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang maka
barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara’,
seperti babi, dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut
syara’.
2.4 Khiyar
Khiyar artinya boleh memilih antara dua perkara , meneruskan akad
jual beli atau mengurungkannya .hikmah khiyar yaitu agar kedua orang yang
bertransaksi dapat memikirkan kemaslahatan masing-masing lebih jauh , sehingga tidak
trjadi penyesalan dikemudian hari.macam-macam khiyar :
1)
Khiyar
Majlis
Artinya
sipembeli dan penjual boleh memilih antara dua perkara tersebut di atas ,
selama keadaanya masih tetap ditempat jual beli . khiyar majlis ini berlaku
untuk semua macam jual beli.
2)
Khiyar
Syarat
Artinya khiyar
yang diisyaratkan oleh kedua belah pihak sewaktu aqad atau salah satu dari
keduanya .
Artinya si
pembeli boleh mengembalikan barang yang dibeli , apabila ada cacat dan
kecacatannya memang sudah ada sebelumnya hanya tidak diketahui oleh si penjual
maupun si pembeli .
2.5 Macam-macam jual beli
Jual beli dapat ditinjau dari berbragai segi, yaitu:
a.
Ditinjau dari segi bendanya dapat dibedakan menjadi:
1)
Jual beli benda yang kelihatan, yaitu jual beli yang pada waktu akad,
barangnya ada di hadapan penjual dan pembeli.
2)
Jual beli salam, atau bisa juga disebut dengan pesanan. Dalam jual beli ini
harus disebutkan sifat-sifat barang dan harga harus dipegang ditempat akad
berlangsung.
3)
Jual beli benda yang tidak ada, Jual
beli seperti ini tidak diperbolehkan dalam agama Islam.
b.
Ditinjau dari segi pelaku atau subjek jual beli:
1)
Dengan lisan, akad yang dilakukan
dengan lisan atau perkataan. Bagi orang bisu dapat diganti dengan isyarat.
2)
Dengan perantara, misalnya dengan tulisan atau surat menyurat. Jual beli
ini dilakukan oleh penjual dan pembeli, tidak dalam satu majlis akad, dan ini
dibolehkan menurut syara’.
3)
Jual beli dengan perbuatan, yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa
ijab kabul. Misalnya seseorang mengambil mie instan yang sudah bertuliskan
label harganya. Menurut sebagian ulama syafiiyah hal ini dilarang karena ijab
kabul adalah rukun dan syarat jual beli, namun sebagian syafiiyah lainnya seperti
Imam Nawawi membolehkannya.
c.
Dinjau dari segi hukumnya
Jual beli dinyatakan sah atau tidak sah bergantung pada pemenuhan syarat
dan rukun jual beli yang telah dijelaskan di atas. Dari sudut pandang ini,
jumhur ulama membaginya menjadi dua, yaitu:
1)
Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya.
2)
Ghairu Shahih, yaitu jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan
rukunnya.
Sedangkan fuqaha atau ulama Hanafiyah membedakan jual beli menjadi tiga,
yaitu:
1)
Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya
2)
Bathil, adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli,
dan ini tidak diperkenankan oleh syara’. Misalnya:
a.
Jual beli atas barang yang tidak ada ( bai’ al-ma’dum ), seperti jual beli
janin di dalam perut ibu dan jual beli buah yang tidak tampak.
b.
Jual beli barang yang zatnya haram dan najis, seperti babi, bangkai dan
khamar.
c.
Jual beli bersyarat, yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat
tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli.
d.
Jual beli yang menimbulkan kemudharatan, seperti jual beli patung, salib
atau buku-buku bacaan porno.
e.
Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram,
seperti menjual anak binatang yang masih bergantung pada induknya.
3)
Fasid yaitu jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syara’
namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi keabsahannya. Misalnya :
a)
jual beli barang yang wujudnya ada, namun tidak dihadirkan ketika
berlangsungnya akad.
b)
Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota atau pasar, yaitu
menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan harga
murah
c)
Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun, kemudian akan dijual ketika
harga naik karena kelangkaan barang tersebut.
d)
Jual beli barang rampasan atau curian.
2.6 Manfaat Jual Beli
Manfaat jual
beli antara lain :
a) Jual beli
dapat menata struktur kehidupan ekonomi masyarakat yang menghargai hak milik
orang lain.
b) Penjual dan
pembeli dapat memenuhi kebutuhannya atas dasar kerelaan atau suka sama suka.
c) Masing-masing
pihak merasa puas. Penjual melepas barang dagangannya dengan ikhls dan menerima
uang, sedangkan pembeli memberikan uang dan menerima barang dagangan dengan
puas pula. Dengan demikian, jual beli juga mampu mendorong untuk saling bantu
antara keduanya dalam kebutuhan sehari-hari.
d) Dapat
menjauhkan diri dari memakan atau memiliki barang yang haram.
e)
Penjual dan
pembeli mendapat rahmat dari Allah swt
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa jual beli itu diperbolehkan
dalam Islam.Hal ini dikarenakan jual beli adalah sarana manusia dalam mencukupi
kebutuhan mereka, dan menjalin silaturahmi antara mereka.Namun demikian, tidak
semua jual beli diperbolehkan.Ada juga jual beli yang dilarang karena tidak
memenuhi rukun atau syarat jual beli yang sudah disyariatkan. Rukun jual beli
adalah adanya akad (ijab kabul), subjek akad dan objek akad yang kesemuanya
mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi, dan itu semua telah dijelaskan di
atas.
3.2 Saran
Jual beli
merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh setiap manusia, namun pada zaman
sekarang manusia tidak menghiraukan hukum islam. Oleh karena itu, sering
terjadi penipuan dimana-mana. Untuk menjaga perdamaian dan ketertiban sebaiknya
kita berhati-hati dalam bertransaksi dan alangkah baiknya menerapkan hukum
islam dalam interaksinya.
Allah SWT telah berfirman
bahwasannya Allah memperbolehkan jual beli dan mengharamkan riba.Maka dari itu,
jauhilah riba dan jangan sampai kita melakukun riba. Karena sesungguhnya riba
dapat merugikan orang lain.